Previous Next

 


 Survei 

Ingatan Kolektif, Sejarah, dan Persepsi Hubungan Indonesia dan Belanda: 
Menuju Rekonsiliasi Masa Lalu dan Membangun Sejarah Masa Depan 

CIRiS – PARA SYNDICATE – SYARIKAT 

Executive Summary 

 

Pendahuluan 

Paper ini merupakan ringkasan eksekutif hasil survei mengenai Ingatan Kolektif, Sejarah, dan Persepsi Hubungan Indonesia dan Belanda: Menuju Rekonsiliasi Masa Lalu dan Membangun Sejarah Masa Depan. Fokus survei ini mendeskripsikan persepsi generasi muda terdidik Indonesia mengenai hubungan kedua negara. Survei ini krusial mengingat hubungan kedua negara saat ini maupun di masa depan sangat ditentukan oleh persepsi generasi ini berdasarkan narasi ingatan kolektif dan sejarah tentang Belanda di tanah Indonesia. Masa lalu adalah identitas bangsa sekaligus pijakan bagi generasi ke generasi sebagai ahli waris yang mempengaruhi keputusan-keputusan sosial politik dan menentukan arah serta keberlanjutan hubungan bilateral kedua negara di masa depan. 

Generasi muda terdidik Indonesia dalam survei ini direpresentasikan oleh generasi yang lahir antara tahun 1980-2000. Generasi ini sering juga disebut sebagai generasi Y atau millennial. Populasinya di Indonesia hingga kini mencapai + 35,0 persen dari jumlah penduduk secara keseluruhan. Dengan jumlah mencapai hampir 100 juta jiwa, generasi Y sangat mempengaruhi hubungan Indonesia-Belanda di masa depan. 

Survei dilakukan terhadap 1.605 responden berlatar belakang siswa sekolah menengah atas (SMA)/ sederajat yang duduk di kelas II dan III, dan mahasiswa/ lulusan strata satu/ sederajat. Usianya berada di antara 15-30 tahun. Dengan teknik multi stage random sampling, sebaran responden ditentukan secara acak di 64 SMA/ sederajat dan 43 universitas/ sederajat di 14 provinsi dan 29 kabupaten/ kota di Indonesia Barat (Sumatera), Jawa-Bali, dan Indonesia Tengah-Timur (Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua). Survei ini menggunakan confidence level 95,0 persen dan margin of errors 2,5 persen.

Tujuan survei ini mendalami ingatan kolektif, sejarah, dan persepsi di kalangan generasi Y mengenai hubungan Indonesia-Belanda. Pendalaman ini mencakup: (1) jarak sosial generasi Y Indonesia dengan Belanda saat ini; (2) jarak generasi ini dengan masa lalu bangsanya; (3) narasi ingatan kolektif dan sejarah; (4) identifikasi kognitif terhadap masa lalu hubungan kedua negara; (5) bentuk afeksi yang terbangun berdasarkan masa lalu; (6) ekspektasi terhadap hubungan kedua negara di masa depan. 

Panjangnya masa kolonialisme Belanda di tanah Indonesia diakui telah membangkitkan perlawanan yang melahirkan nilai-nilai ke-Indonesia-an sebagai narasi besar identitas kehidupan berbangsa dan bernegara yang diwariskan lintas generasi. Generasi millennial jadi salah satu ahli waris yang ikut memikul identitas ke-Indonesia-an. Narasi identitas ini tidak bisa diabaikan dari hubungan bilateral kedua negara sampai kapanpun. Oleh karena itu, survei ini juga memiliki urgensi memperjelas hubungan Indonesia-Belanda dengan beranjak pada masa lalu sekaligus sebagai pijakan untuk melangkah lebih jauh ke depan. 

Jarak Sosial Historis: Generasi Tanpa Dendam Yang Dekat Dengan Masa Lalu 

Pertama, jarak sosial. Jika dibandingkan dengan negara kolonial lain yang pernah datang ke Indonesia, Belanda dikategorikan negara kolonial yang kurang disukai. Jepang (33,3%), Inggris (23,7%), dan Prancis (22,9%) adalah tiga negara kolonial yang disukai. Sementara Belanda (9,0%) bersama Spanyol (8,5%), dan Portugis (2,6%) sebagai tiga negara kolonial yang kurang disukai. Meskipun demikian, generasi Y Indonesia tidak memiliki dendam sosial terhadap Belanda. Hal ini terlihat dari jarak sosial yang terbilang tidak jauh, tetapi tidak juga bisa dikatakan dekat, antara generasi ini dengan Belanda. Secara terbuka, dari 50 negara yang paling ingin dikunjungi, Belanda masuk dalam 10 besar. Bahkan, dari 20 negara di Eropa yang ingin didatangi, Belanda berada di urutan ke empat dari lima negara teratas. 

Sebagai negara yang pernah dikolonisasi dan dengan ingatan kolektif dan sejarah yang masih kuat melekat di sanubari generasinya, sewajarnya ada rasa dendam dan jarak sosial dengan Belanda. Namun rupanya generasi Y Indonesia saat ini tidak memiliki dendam sosial itu. Terbukti mereka tidak keberatan menjadikan Belanda sebagai salah satu destinasi kunjungan ke luar negeri. 

Tidak itu saja, generasi Y ini terbuka membangun persahabatan dengan Belanda. Sekitar 51,7 persen responden menerima persahabatan dengan Belanda. Hanya 4,0 persen yang menolaknya, dan selebihnya netral. Demikian pula dengan negara rujukan kemajuan ekonomi, generasi ini tidak segan mengakui bahwa Belanda layak menjadi contoh bagi kemajuan ekonominya. Dari semua negara Eropa, Belanda termasuk dalam tiga negara teratas yang dianggap representatif sebagai rujukan. 

Kedua, jarak historis. Jarak ini merupakan jarak antara generasi Y Indonesia dengan masa lalu tanah airnya. Temuan survei memperlihatkan generasi ini dekat dengan sejarah bangsanya. Generasi ini mengetahui dan meyakini masa lalu negerinya pernah dijajah Belanda. Hal ini terbaca dari kemampuan generasi ini mengingat kolonialisme Belanda di Indonesia dengan berbagai peristiwa yang mengisinya. Sebut saja VOC dengan monopoli dagang rempah-rempah, tanam paksa, 350 tahun penjajahan, sampai dengan politik etis dan pencaplokan Irian Barat. 

Generasi ini mampu mengidentifikasi dan menolak kolonialisme yang merugikan bangsanya. Sebaliknya, ada apresiasi bagi politik etis yang memberikan ruang bagi pribumi, setidaknya pendidikan pribumi. Lebih dari 57,0 persen responden mengapresiasi politik etis karena dianggap memberikan sedikit ruang bagi pribumi, terutama di sektor edukasi, kendati watak kolonialismenya tetap kental. Meskipun generasi muda ini tidak menyukai kolonialisme Belanda di tanah airnya tetapi mereka tidak memiliki dendam sosial terhadap Belanda. Walaupun demikian, generasi ini mengenal dan dekat dengan masa lalu bangsanya serta memahami sejarah panjang nan kelam dari penjajahan Belanda di Indonesia. 

Ingatan Kolektif dan Sejarah: Kolonialisme Belanda dan Soekarno Sebagai Sepasang Narasi Dominan Tak Terpisahkan 

Ingatan kolektif dan sejarah merupakan dua hal tanpa batasan tegas. Sebagian besar studi seperti ini, sampai dengan yang terbaru, gagal memberikan pembedaan yang jernih mengenai batasan keduanya. Kendati demikian, survey ini memberikan pembedaan definisi konseptual keduanya guna memudahkan upaya mendeskripsikan persepsi yang bersumber pada masa lalu sekaligus mengukur jarak di antaranya. 

Ingatan kolektif adalah narasi yang dihasilkan dari reproduksi sosial yang interaktif, dinamis, dan terbuka terhadap dialektika mengenai remembering dan forgetting. Ingatan kolektif bersumber pada keluarga, teman, kelompok etnis, kelompok masyarakat tertentu, dan sumber lain seperti internet dengan kemajuan teknologi informasinya sehingga 

cenderung informal. Sementara sejarah merupakan hasil rekonstruksi yang sengaja ditulis dan dibangun secara akademik, bahkan melalui intervensi politik dan kekuasaan negara, dengan berbagai postulasi dan bukti-bukti yang dapat diverifikasi. Sejarah dengan demikian cenderung formal karena adanya penetapan negara lewat pendidikan di sekolah dan universitas. 

Berdasarkan temuan survei, narasi tentang Belanda sebagai negara kolonial sangat kuat dan dominan. Dari narasi ingatan kolektif sebesar 59,7 persen, sekitar 45,2 persen menarasikan Belanda sebagai negara kolonial, 24,9 persen sebagai negara kincir angin, 10,9 persen sebagai negara pemberi beasiswa, dan sisanya sebagai negara sepak bola dan lain-lain. Sementara narasi yang bersumber pada sejarah sejumlah 40,3 persen, terdapat 52,8 persen menyatakan Belanda sebagai negara penjajah, 24,0 persen sebagai negara kincir angin, 8,9 persen sebagai negara pemberi beasiswa, dan selebihnya sebagai negara sepak bola dan lain-lain. Narasi ini kian kuat dengan jawaban responden yang membenarkan Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun berbasis ingatan kolektif 52,8 persen dan sejarah 51,8 persen. 

Narasi dominan lain adalah narasi perlawanan terhadap kolonialisme Belanda dengan Soekarno sebagai simbolnya. Menurut 60,2 persen narasi ingatan kolektif, sebesar 31,9 persen responden menilai Soekarno sebagai narasi utama perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Kartini berada di bawahnya dengan jarak yang lebar, 12,0 persen. Sedangkan menurut 39,8 persen narasi sejarah formal, Soekarno diletakkan sebagai simbol perlawanan terhadap Belanda sebesar 35,9 persen dan Kartini 12,4 persen. Selebihnya secara tidak signifikan menempatkan sejumlah nama pahlawan lainnya, namun masih didominasi konteks perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme Belanda. 

Dua narasi utama dan dominan di atas bagaikan sekeping mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Berbicara hubungan Indonesia-Belanda di masa lalu maupun saat ini, tidak bisa dilepaskan dari sosok Soekarno. Narasi kolonialisme Belanda selalu tersandingkan dengan narasi perlawanan Soekarno sebagai sepasang narasi tesis dan anti tesis. Ingatan kolektif dan sejarah hubungan kedua negara bahkan kehilangan jaraknya oleh sepasang narasi ini. Ingatan kolektif maupun sejarah menempatkan narasi Belanda sebagai negara kolonial dan Soekarno sebagai simbol perlawanan dalam kerangka kolonialisme Belanda vis a vis nasionalisme Indonesia. 

Persepsi: Narasi-Narasi Dominan Lintas Ruang dan Waktu 

Persepsi merupakan pemaknaan terhadap stimulasi yang diolah menggunakan pengalaman masa lalu dan pengetahuan dari ingatan kolektif dan sejarah serta informasi yang diakses saat ini. Persepsi tentang hubungan Indonesia-Belanda dengan demikian tersusun 

berdasarkan identifikasi kognitif terhadap pengalaman masa lalu kedua negara dan pengetahuan sejarah yang diakses. Identifikasi ini pada gilirannya membentuk afeksi dan ekspektasi hubungan kedua negara. 

Hasilnya, survei ini menemukan sejumlah narasi dominan melintasi dan menjembatani perbedaan dimensi ruang dan waktu. Narasi-narasi ini diwariskan dari generasi ke generasi secara tidak terputus. Narasi-narasi tersebut adalah Belanda sebagai negara penjajah dan Soekarno sebagai simbol perjuangan (nasionalisme) melawan kolonialisme yang tidak selesai dengan kemerdekaan semata, tetapi terus hidup sebagai nilai-nilai ke-Indonesia-an. Sepasang narasi dominan ini juga menjadi jembatan penghubung dan penyambung antara bangunan narasi masa lalu, kini, dan ekspektasi ke depannya dalam hubungan Indonesia- Belanda. Pada gilirannya, afeksi generasi muda terdidik yang terbentuk adalah ketidaksukaan terhadap Belanda dengan kolonialismenya di Indonesia di masa lalu. Sementara harapan ke depannya, hubungan kedua negara memiliki relasi setara tanpa watak dan praktik kolonialisme dan imperialisme dalam bentuk apapun dengan berpijak pada masa lalu. 

Identifikasi Kognitif: Narasi Kolonialisme dan Imperialisme Belanda Hingga Soekarno dan Ke- Indonesia-an 

Identifikasi kognitif terhadap hubungan Indonesia-Belanda berbasis pengalaman masa lalu yang diwariskan secara turun temurun lewat ruang sosial (ingatan kolektif) maupun pendidikan formal (sejarah) menarasikan Belanda sebagai negara kolonial yang pernah menjajah Indonesia selama 350 tahun. Secara keseluruhan, narasi kognitif terhadap Belanda didominasi oleh pemaknaan negatif (57,0%), meliputi kolonialisme (48,4%), VOC (7,8%), dan tanam paksa (0,8%). Sedangkan pemaknaan positif hanya sebesar 40,3 persen mencakup kincir angin (24,1%), scholarship (10,4%), dan football (5,8%). Sisanya 2,7 persen adalah lain-lain. 

Narasi di atas diikuti dengan identifikasi Soekarno sebagai simbol perlawanan terhadap kolonialisme cukup kuat mengendap di dalam kognisi generasi muda terdidik Indonesia. Secara keseluruhan (ingatan kolektif dan sejarah), sebesar 33,8 persen responden menempatkan Soekarno sebagai narasi dominan menyanding narasi kolonialisme Belanda. Nama lain yang muncul sebagai bagian dari narasi ini adalah R. A. Kartini (12,0%), Sudirman (7,2%), Pattimura (7,1%), dan Cut Nyak Dien (6,0%). Selebihnya adalah nama-nama yang persentasinya berada di bawah 5,0 persen seperti Ki Hajar Dewantara, Imam Bonjol, Sultan Hassanudin, dan sebagainya. 

Menariknya, narasi tentang Soekarno tidak hanya hadir dalam bentuk ingatan kolektif dan sejarah masa lalu. Lebih dari itu, narasi ini diidentikkan dengan narasi ke-Indonesia-an sampai hari ini, bahkan hingga ke depannya. Nasionalisme di atas Bhinneka Tunggal Ika (93,7%), Pancasila (85,3%), dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) (82,7%) 

diletakan sebagai nilai-nilai ke-Indonesia-an yang jadi identitas dan karakter bangsa (90,9%) sekaligus sebagai benteng terhadap kembalinya kolonialisme dan imperialisme. Nilai-nilai perjuangan melawan Belanda tersebut kini telah menjadi identitas ke-Indonesia-an. Boleh jadi Indonesia itu sendiri adalah narasi besar counter kolonialisme dan imperialisme. 

Afeksi: Narasi Nasionalisme dan Ketidaksukaan Terhadap Kolonialisme Belanda 

Afeksi yang terbentuk dalam benak generasi muda terdidik Indonesia tentang Belanda setidaknya terdiri dari dua narasi utama, yakni (1) nasionalisme berupa rasa cinta tanah air yang merdeka dan berdaulat, (2) ketidaksukaan terhadap kolonialisme Belanda. Generasi muda Indonesia hari ini sadar bahwa sejumlah tindakan yang dilakukan Belanda dahulu sampai dengan beberapa waktu lalu yang secara eksplisit maupun implisit mengabaikan ke- Indonesia-an, entah sebagai entitas, negara bangsa, maupun wilayah bahkan sejarah, tidak disukai dan ditolak dengan tegas. 

Peristiwa-peristiwa semasa penjajahan Belanda, seperti monopoli terhadap pengambilan dan perdagangan rempah-rempah (88,2%), adu domba (90,9%), kerja paksa (87,5%), dan pencaplokan Irian Barat (88,0%) tidak disukai dan dianggap sebagai penegasian terhadap ke-Indonesia-an. Afeksi ini dalam narasi yang lain dikonversi menjadi nasionalisme/rasa cinta tanah air terhadap dan sebagai sebuah bangsa yang satu, merdeka, dan berdaulat. Generasi ini menolak tindakan Belanda mencampuri urusan dalam negeri Indonesia. Tindakan pemerintah Belanda menarik duta besarnya setelah pemerintah Indonesia menghukum mati warga negaranya yang terbukti menyelundupkan narkoba ke Indonesia dianggap sebagai bentuk intervensi negara kerajaan tersebut terhadap sistem hukum Indonesia yang merdeka dan berdaulat (59,1%). 

Kendati begitu, narasi-narasi ini tidak dilandasi dendam terhadap Belanda. Kerja sama kedua negara yang telah terbangun sampai saat ini dihargai sebagai kerja sama dua negara merdeka dan berdaulat. Sejumlah kerja sama dimaksud misalnya di bidang kalautan (76,3%), pendidikan dan kebudayaan (94,0%), pengairan (78,8%), pertahanan keamanan (79,6%), dan olah raga (77,0%). Walaupun harus diakui, kolonialisme Belanda di masa lalu oleh generasi Y ini tidak terlupakan. 

Ekspektasi: Narasi Ke-Indonesia-an dan Sejarah sebagai Identitas Hubungan Indonesia- Belanda di Masa Depan 

Generasi muda terdidik Indonesia cukup terbuka untuk membangun hubungan Indonesia- Belanda yang lebih baik di masa depan. Antusiasme ini diperlihatkan temuan survei sebesar 86,3 persen yang menyetujuinya. Generasi ini mengapresiasi jika Belanda berani membangun hubungan yang lebih setara. Hal ini ditunjukan oleh 77,3 persen responden yang mengapresiasikan rencana kunjungan balasan Perdana Menteri Belanda ke Indonesia setelah beberapa waktu lalu Presiden Joko Widodo mengunjungi negara itu. Lebih jauh, hubungan kedua negara dibayangkan memiliki kesejajaran sebagai negara merdeka yang memegang prinsip kedaulatan. Hubungan Indonesia-Belanda ke depannya harus 

dilandaskan pada hubungan dua negara yang setara, merdeka, dan berdaulat dengan berpijak pada masa lalu. 

Ekspektasi generasi Y ini terlihat jelas pada hasil survei. Sebesar lebih dari 85,0 persen responden mengharapkan hubungan Indonesia-Belanda di masa depan berpijak pada pengalaman masa lalu dan sejarah. Bahkan, generasi ini sangat menghargai jika Belanda memberikan ganti rugi yang layak bagi korban-korban kolonialismenya di Indonesia seperti yang pernah dilakukan terhadap kasus Westerling dan Rawa Gede (69,5%), sebagai bukti bahwa sejarah masa lalu hubungan kedua negara tidak terabaikan. Ini sekaligus menjadi jaminan bagi kedua negara menemukan narasi yang kuat dalam membangun hubungan kedua negara. 

Penutup 

Preferensi persepsi generasi muda terdidik Indonesia tentang hubungan Indonesia-Belanda diletakan pada pencapaian rekonsiliasi berbentuk forgive but not forget. Sejarah masa lalu diterima sebagai bentuk kolonialisasi Belanda terhadap Indonesia, tetapi direfleksikan sebagai bagian dari proses pembentukan negara bangsa yang bernama Indonesia. Temuan survei terhadap ingatan kolektif, sejarah, dan persepsi di kalangan generasi muda terdidik Indonesia hari ini menjelaskan bahwa sejarah masa lalu hubungan Indonesia-Belanda merupakan identitas dan narasi yang tidak bisa diabaikan dalam membangun masa depan yang lebih baik dari kedua negara ini. 

Survei ini juga menemukan bahwa Soekarno diletakan sebagai simbol counter kolonialisme sekaligus pemersatu – integrasi nasional – dari keragaman spasial, demografi, dan kultural. Sosok Soekarno, bahkan, tidak hanya dianggap sebagai figur pemersatu dan simbol perlawanan terhadap Belanda semata, tetapi lebih dari pada itu hampir semua ide dan pemikirannya mengenai sebuah negara bangsa diterjemahkan secara nyata dan diterima sebagai Indonesia hari ini. 

Berpijak pada temuan di atas, proyeksi hubungan Indonesia-Belanda di mata generasi muda terdidik (Y) Indonesia direkomendasikan untuk fokus pada pertukaran yang sejajar dalam bidang ekonomi, kebudayaan, dan teknologi dengan memperhatikan bentuk-bentuk pencapaian rekonsiliasi masa lalu. Dengan resultansi hubungan Indonesia-Belanda ini diharapkan dapat menjadi lesson learning bagi Belanda di dalam membangun narasi hubungan Belanda tidak hanya dengan Indonesia atau negara-negara bekas koloninya tetapi juga hubungan antara Belanda dengan negara-negara yang pernah menjajahnya. Ini menjadi pembelajaran hubungan Indonesia-Belanda sekaligus diskursus kolonialisme dan counter terhadap kolonialisme.


Referensi 

  • Bodnar, John, 2000, Pierre Nora, National Memory, and Democracy: A Review. The Journal of American History, Vol. 87, No. 3. 
  • Elson, Sara Beth, dan Nader, Alireza, 2011, What Do Iranians Think? A Survei of Attitudes on the United States, the Nuclear Program and the Economy, RAND Corporation, National Defense Research Institute. 
  • Halbwachs, Maurice, 1980, The Collective Memory, New York and London: Harper and Row. 
  • Howe, Neil, and Strauss, William, 2007, “The Next 20 Years: How Customer and Workforce Attitudes will Evolve”, Harvard Business Review 52, https://hbr.org/the-next- 20-years-how-customer-and-workforce-attitudes-will-evolve, diakses 17 Oktober 2016. 
  • Keynan, Irit, 2014, Between the Past and Future: Persistent Conflicts, Collective Memory, and Reconciliation, International Journal of Social Sciences, III (I): 19 -25, http://www.iises.net/, diakses 17 Oktober 2016. 
  • Loytomaki, Stiina, 2013, The Law and Collective Memory of Colonialism: France and the Case of “Belated” Transitional Justice, The International Journal of Transitional Justice. 
  • Nimmo, Dan, 1989, terj. Tjun Surjaman, Komunikasi Politik Khalayak dan Efek, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 
  • Nora, Pierre, 1989, Between Memory and History: Les Lieux de Mémoire. Representations, No. 26, Special Issue: Memory and Counter-Memory (Spring, 1989), University of California Press. 
  • Statisitics Indonesia, 2015, Statistical Year Book of Indonesia, Badan Pusat Statisitik. 
  • Tumblety, J., (ed), 2013, Memory and History: Understanding Memory as Source and Subject, Abingdon, Routledge.
2017 © Powered by PARA Syndicate